Friday, June 24, 2016

Tradisi Sabung Ayam di Indonesia Sudah Berabad-abad

Bandar Sabung Ayam - Sebuah berita terbongkarnya rumah judi sabung ayam di New York menggegerkan para pecinta hewan. Memang di jaman modern ini, sudah saatnya menghentikan aksi kekerasan pada binatang. Walikota New York saja akan menghapus kereta kuda di Central Park, apalagi sabung ayam yang benar-benar menyiksa.

Kabar-kabar tentang perlindungan hewan memicu aktivis lokal mulai mengendus bila hal serupa masih dilakukan di Indonesia. Sabung ayam, dalam level judi sebenarnya termasuk ilegal di negeri ini. Pembongkaran kawasan judi beberapa kali dilakukan pihak kepolisian. Walau kemudian muncul dan muncul lagi.



Agen Sabung Ayam Untuk memahami sabung ayam di Indonesia, mungkin perlu dicermati antara murni judi atau bagian dari tradisi agama? Pada beberapa acara ritual, sabung ayam harus diselenggarakan. Apakah perkembangan jaman bisa menghapus sisi upacara tersebut, tergantung sejauh mana kebijakan pemuka agamanya.

Dalam perjalanan sejarah bangsa ini, usia sabung ayam nyaris setua pembentukan masyarakat di pulau-pulau Nusantara. Mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, hingga Sulawesi punya kisah tentang sabung ayam.

Di Jawa, sabung ayam berasal dari folklore (cerita rakyat) Cindelaras yang memiliki ayam sakti dan diundang oleh raja Jenggala, Raden Putra untuk mengadu ayam.

Jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras. Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja.

Sabung Ayam Online Akhirnya raja mengakui kehebatan ayam Cindelaras dan mengetahui bahwa Cindelaras tak lain adalah putranya sendiri yang lahir dari permaisurinya yang terbuang akibat iri dengki sang selir.



Secara sejarah nyata, sabung ayam memegang peran dalam pembentukan kerajaan Jawa. Sabung ayam menjadi sebuah peristiwa politik pada masa lampau, terkait Singosari.

Sabung Ayam Dikisahkan sedang terjadi penyelenggaraan sabung ayam di kerajaan Singosari. Peraturan yang berlaku adalah siapapun yang akan masuk kedalam arena sabung ayam dilarang membawa senjata atau keris.

Sebelum Anusapati berangkat ke arena sabung ayam, Ken Dedes ibu Anusapati menasehati anaknya agar jangan melepas keris pusaka yang dipakainya jika ingin menyaksikan sabung ayam yang diselenggarakan di Istana, tetapi sesaat sabung ayam belum dilakukan Anusapati terpaksa melepaskan kerisnya atas desakan Pranajaya dan Tohjaya.

Pada saat itu terjadi kekacauan dan akhirnya peristiwa yang dikuatirkan Ken Dedes terjadi Kekacauan tersebut merengut nyawa Anusapati yang tergeletak mati di arena sabung ayam dibunuh adiknya Tohjaya tertusuk keris pusakanya sendiri.

sabungayam Anusapati adalah kakak dari Tohjaya dengan ibu Ken Dedes dan bapak Tunggul Ametung sedangkan Tohjaya adalah anak dari Ken Arok dengan Ken Umang.


Bali
Sabung ayam di Bali disebut Tajen. Nama ini berasal-usul dari tabuh rah, salah satu yadnya (upacara) dalam masyarakat Hindu di Bali. Tujuannya mulia, yakni mengharmoniskan hubungan manusia dengan bhuana agung. Yadnya ini runtutan dari upacara yang sarananya menggunakan binatang kurban, seperti ayam, babi, itik, kerbau, dan berbagai jenis hewan peliharaan lain. Persembahan tersebut dilakukan dengan cara nyambleh (leher kurban dipotong setelah dimanterai).



Tradisi ini sudah lama ada, bahkan semenjak zaman Majapahit. Saat itu memakai istilah menetak gulu ayam. Akhirnya tabuh rah merembet ke Bali yang bermula dari pelarian orang-orang Majapahit, sekitar tahun 1200. Tabuh rah yang kerap diselenggarakan dalam rangkaian upacara Butha Yad-nya pun banyak disebut dalam berbagai lontar.

Sabung Ayam Terpercaya Sebuah lontar yang memuat sabung ayam ada dalam lontar Yadnya Prakerti. Yakni, pada waktu hari raya diadakan pertarungan suci misalnya pada bulan kesanga patutlah mengadakan pertarungan ayam tiga sehet dengan kelengkapan upakara. Bukti tabuh rah merupakan rangkaian dalam upacara Bhuta Yadnya di Bali sejak zaman purba juga didasarkan dari Prasasti Batur Abang I tahun 933 Saka dan Prasati Batuan tahun 944 Saka.


Bugis
Menurut M Farid W Makkulau, Manu’(Bugis) atau Jangang (Makassar) yang berarti ayam, merupakan kata yang sangat lekat dalam kehidupan masyarakat Bugis Makassar.

Gilbert Hamonic menyebutkan bahwa kultur bugis kental dengan mitologi ayam. Hingga Raja Gowa XVI, I Mallombasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin, digelari “Haaantjes van het Oosten” yang berarti “Ayam Jantan dari Timur.







0 comments:

Post a Comment